Kamis, 24 Januari 2019

Kok Tumben?!

Pexels.com

"Kesal rasanya. Udah ikutnya bayar, tapi nggak paham sama isi acaranya...", aku mengubah posisi dudukku. Bersandar pada kursi. Makan siangku baru saja habis. Unek-unek di kepala harus dituntaskan. Udah memuncak.

"Lho? Kok bisa gitu, Wan? Rugi dong... Gimana ceritanya?", Aji menyeruput es teh. Sepiring nasi kombinasi lauk lele goreng plus sambel dan krupuk sudah dilahapnya.

"Aku udah daftar acara itu udah dari lama kan, ya... Pas hari H memang ada keperluan dadakan. Jadi aku telat sampe di lokasi. Mulainya jam 9, aku datang jam 11." Gantian ku minum es jeruk manis di hadapanku. Setiap memesan es jeruk, harus ku pastikan manis. Aku nggak suka jeruk asem. Lambungku sensitif.

"Waaaah... Itu sih telat pake banget."

"Iya, Ji. Parah banget telatnya. Aku sampe kebagian tempat duduk di bagian belakang. Pojokan."

"Ya panteslah, kamu telat gitu, Wan... Terus apa kaitannya kamu dateng telat sama kamu nggak paham isi acara?"

"Aku kan telat 2 jam, Ji. Ya ketinggalan materi seminar. Otomatis aku bingung, Ji. Nggak dapet awalnya, dapetnya akhirnya.."

"Hahahahaa.... O iya, ya... Namanya telat membawa sengsara..."

"Yeee...", Ini orang malah bikin sewot.

"Itu seminar apaan sih, emangnya? Sampe bikin kamu kesel gitu...", Aji penasaran.

"Tentang cara instan jadi pengusaha sukses, Ji.."

"Weh... Tumben banget kamu ikutan acara gitu, Wan? Bukannya kamu ngebet pengen jadi PNS?"

"Nggak ngebet sih, Ji... Yang pengen aku jadi PNS itu bukan aku, tapi orangtuaku."

"Iya sih, ya... Wajar... Orangtuamu kan PNS."

"Ya tapi akunya nggak pengen, Ji. Kalo nolak ntar kualat sama orangtua. Kalo nurutin orangtua tapi akunya nggak pengen kan berat jalaninnya. Bingung aku..."

"Apa kamu nggak inget, Wan? Orangtuaku kan juga pengen aku jadi PNS. Mereka bukan PNS tapi pengen anak-anaknya jadi PNS."

"Kalo dipikir, yang dipengenin orangtua tuh sederhana aslinya, ya. Anak beres kuliah, bisa kerja, dapet gaji bulanan, bisa buat kebutuhan sama nabung. Gitu doang kan, ya..."

"Sepertinya gitu, Wan... Tapi..."

"Tapi apa, Ji?"

"Dari tadi aku tuh mikir, Wan. Sama seminar instan jadi pengusaha itu."

"Mikir gimana?", aku bingung menangkap arah pembicaraan Aji.

"Aku mikir, apa nggak serem itu acara? Ngajarin orang cara instan gitu? Mie instan aja kabarnya membahayakan tubuh. Lama dicerna di perut."

"Mie instan tuh enak, Ji... Cepet makannya. Kalo laper, bikin bentar, bisa langsung dimakan... Ku pikir, cara yang diajarin juga udah teruji praktis."

"Buatku tetep aneh, Wan... Pembicaranya siapa? Pengusaha apa dia?"

"Hmm... Siapa ya tadi, aku lupa. Nggak terkenal kayaknya, deh... Susah nginget namanya..."

"Nah! Pembicaranya aja kamu nggak kenal. Gimana mau percaya sama apa yang dia ajarin?"

"Iya juga sih..."

"Menurutku ya, Wan, yang namanya instan itu memang menggiurkan tapi nggak bagus buat jangka panjang..."

"Wuidih, ceileee.... Sok bijak banget..."

"Dibilangin, nggak percaya... Bukannya sok bijak, tapi aku dapet kalimat itu di internet. Pas browsing."

"Yeee.... Kirain hasil pemikiranmu...!!!"

"Tapi, kan, ada benarnya...", Aji membela diri.

"Ada benarnya gimana?"

"Dipikir logis aja. Kalau bayi yang baru belajar merangkak, langsung diajari cara instan berlari, ya bahaya, kan..."

"Contohmu ngawur! Masak bayi lagi merangkak kok diajarin lari..."

"Lha iya, kan gitu. Sama halnya kayak kita kalo belum ngerti pengusaha itu ngapain aja, eh, langsung diajarin cara instan jadi pengusaha sukses, ya pasti hasilnya malah nggak karuan. Bukannya untung, bisa jadi malah buntung..."

"Kok malah doain buntung, sih, Ji..."

"Ya nggak doain gitu, tapi analoginya kan, ya gitu... Orang belum siap mentalnya jadi pengusaha, kok udah dikasih tahu cara kilatnya jadi pengusaha sukses. Ya nggak masuk akal, Wan..."

"Tadi di akhir sesi, pembicaranya bilang gini, 'Kalau soal mental, bisa dilatih seiring waktu. Yang penting action dulu...', gimana kalo gitu, Ji?"

"Wah... Kalau asal action, apa nggak malah bahaya itu, Wan? Kalau dibilang mental bisa dilatih seiring waktu sih, mungkin ada benarnya, tapi apakah cocok buat semua peserta seminar tadi? Yang ada, pas kepentok masalah bisnis, bisa stres, bisa depresi, gimana? Apakah cocok sama kamu?"

"Hmm..," Aku masih mencerna kalimat Aji.

"Kalo stres, masalahnya nggak selese. Aduh, serem kalo bayangin ke persoalan psikologis gitu... Bekal mentalitas di awal bikin usaha penting banget menurutku, Wan..."

"Iya, juga, sih... Terus gimana, dong, Ji? Aku kan pengen bisa kayak pengusaha-pengusaha sukses, Ji.. Bisa punya banyak duit, bisa beli apapun yang aku pengenin, bisa bikin rumah impianku, liburan kemanapun aku mau, wah, banyak deh pokoknya..."

"Banyak juga maumu ya, Wan... Hahaha..."

"Iya, dong... Gengsi kan naik, Ji...."

"Hahaha... Gengsi aja digedein..."

Aku nyengir. Aji melanjutkan, "jadi, menurutmu, pengusaha yang berlimpah uang itu sukses, Wan?"

"Iya, Ji. Kalo sukses itu kan duitnya banyak. Ibaratnya duit udah nggak ada nomor serinya lagi. Saking banyaknya..."

"Jadi inget artikel di internet, nih. Kalo kita menganggap pengusaha sukses karena duitnya banyak, lalu gimana dengan guru ngaji di desa? Gimana sama tukang becak? Apa mereka nggak bisa dibilang sukses?"

Wow! Pertanyaan Aji mengerikan. Aku hampir nggak bisa jawab.

"Ya gimana dong, ya...", aku kebingungan.

"Bisa jadi guru ngaji tersebut bahagia ketika bisa mengajarkan cara mengaji yang benar kepada anak-anak. Paginya kerja di sawah, sorenya ngajar ngaji. Nggak dibayar pula..."

Aku diam memperhatikan. Aji melanjutkan kalimatnya.

"...Lalu bisa jadi tukang becak yang semangat bekerja dari subuh, begitu pulang ke rumah disambut peluk istri dan anak-anaknya. Kepulangannya ditunggu-tunggu seisi rumah."

Aku masih diam.

"Belum tentu pengusaha yang kamu bilang sukses dengan indikator materi tadi, dinanti-nantikan kepulangannya oleh keluarga. Belum tentu dia bisa ngobrol santai dengan istri dan anak-anaknya di rumah. Bisa jadi jadwalnya yang sibuk parah, dia jarang di rumah. Tahu-tahu anaknya udah pada gede."

"Kok malah negatif thinking sih, Ji..."

"Ya nggak gitu maksudku... Bisa aja kan situasinya begitu..."

"Khayalanmu terlalu tinggi, Ji...", Aku menertawakannya.

"Ini orang dikasih tahu, malah ngetawain," gantian Aji yang sewot.

Aku terkekeh. Geli melihat respon Aji.

"Kayaknya kamu pas banget kalo baca artikel yang aku bilang tadi, deh, Wan."

"Artikel apaan?"

"Ini, di situs JuraganForum.com. Ada artikel yang bahas tentang 'Makna Sukses' sama 'Menghitung Angka Cukup'."

"Kayaknya bagus, mau linknya dong, Ji."

"Nih, linknya: http://juraganforum.com/maknasukses sama http://juraganforum.com/menghitung-angka-cukup," Aji membaca dari layar ponselnya.

"Kirim ke WA-ku aja, Ji," pintaku.

"Ah, dasar males. Tinggal buka aja situs JuraganForum.com, cari artikelnya di situ. Bakal ketemu, kok.."

"Hehehe... Oke, oke.. Makasih ya, Bapak Aji yang baik hati..."

Aji nyengir aja, "Udah dulu ya, Wan. Aku udah harus balik lagi ke kantor."

"Oke, Ji. Hati-hati..."

Aji bangkit dari tempat duduknya, "Nggak usah bayar, Ji. Aku yang traktir," kataku.

"Hahaha... Siap, Pak Bos! Makasih banyak!", ledeknya. Aku nyengir sambil melihat Aji yang bergegas keluar dari rumah makan.

Kulihat jam di ponselku. Udah jam 1 siang. Biasanya memang jam istirahat kantor udah habis.

Aji emang sahabat idola. Dia banyak banget bantuin aku. Dari jaman sekolah di SMP sampai dia berkutat dengan urusan HRD di sebuah pabrik tekstil saat ini. Jarak kantornya sekitar 10 menit dari tempat makan kami kali ini.

Kalo Aji udah asik dengan bidang HRDnya, aku masih berkutat dengan iklan lowongan kerja. Tes CPNS tahun lalu gagal, memang jadi beban pikiran banget. Bapak ibuku pengen aku jadi teladan yang bener buat adik-adikku. Makin pusing kepalaku. Belum lagi aku punya segudang impian. Antara impian sama realita kok timpang banget gini, ya. Rasanya masih mustahil merealisasikan impianku.

Ketemu makan siang sama sohib memang bikin pikiran sedikit enteng. Curhat-curhat dikit memang melegakan. Hahaha...

Jari-jemariku masih lincah menari di atas layar ponsel. Koneksi 4G membuat laman JuraganForum.com cepet ku akses. Nggak cuma dua artikel tadi, ternyata ada artikel tentang 'Keberkahan di Proses' sama artikel 'Memahami Konsep Rejeki' menggelitik rasa penasaranku.

Rabu, 05 Desember 2018

Mengamati Dalam Diam

Facebook merupakan salah satu produk media sosial, seperti Friendster (alm), Twitter, Instagram, Path dan lainnya. Faktanya, pengguna Facebook di Indonesia memanfaatkan beragam fasilitas di Facebook untuk berjualan. Apakah mungkin di Indonesia, Facebook telah berubah menjadi Media Olshop?

Sebuah asumsi menyebutkan bahwa boleh jadi ramainya lalu lintas pengguna Facebook di Indonesia disebabkan oleh kebiasaan orang yang suka ikut-ikutan. Hal yang menjadi tren hangat saat itu dijadikan patokan sukses di masa depan, maka momentum semacam itu dimanfaatkan betul oleh pengguna Facebook di Indonesia.



Anggapan bahwa si A sukses melejitkan omset dan profit ketika berjualan produk Mukena Larizka misalnya, langsung ditiru oleh pengguna Facebook yang lain. Mereka ada yang langsung daftar menjadi reseller atau agen distributor Larizka.com, ada juga yang mengkloning motif dan membuat produk mukena lukis sendiri lalu menjualnya, atau ada yang terinspirasi untuk membuat produk mukena lukis yang jauh lebih bagus daripada Larizka.com.

SEMUA PILIHAN

Strategi Amati-Tiru-Plek bisa dilakukan, strategi Amati-Tiru-Modifikasi pun bisa diterapkan. Asalkan, hal tersebut dilakukan dengan motivasi yang kuat. Semua merupakan pilihan. Kekuatan faktor 'WHY' dalam diri perlu ditemukan secara cepat ketika seseorang memutuskan berwirausaha. Motivasi terbesar 'MENGAPA INI PENTING UNTUK DILAKUKAN' menjadi energi penguat seseorang untuk bertahan dalam cuaca wirausaha yang dinamis.

Faktor 'WHY' membantu seseorang terus bersemangat ketika menjalani proses di hadapannya. Semakin besar faktor 'WHY', maka semakin kuat kemungkinan seseorang untuk tetap bertahan dalam proses yang ia lalui. Jika faktor 'WHY' ketika berwirausaha hanya ikut-ikutan tren di masyarakat, lalu berhadapan dengan masalah tertentu, seseorang mungkin akan bingung bagaimana cara mengatasinya.

PENTINGNYA GURU

Perlunya GURU yang tepat menjadi salah satu faktor penentu berikutnya dalam kesuksesan seseorang. Ia bisa saja berhasil sukses ketika berwirausaha, namun masa coba-cobanya jauh lebih panjang, dibandingkan orang yang memiliki GURU. Orang yang memiliki GURU, tidak perlu mengalami masa TRIAL & ERROR seperti seseorang yang action TANPA GURU. GURU dapat berupa MENTOR yang sudah terbukti berprestasi, atau kawan-kawan di dalam komunitas yang sevisi.

FAKTOR KOMUNITAS

Komunitas Yukbisnis.com merupakan salah satu komunitas wirausaha di Indonesia. Anggota komunitas ini mulai menyebar di penjuru Indonesia, bahkan sebagian ada yang aktif juga di luar negeri. Seperti misalnya Komunitas Yukbisnis Pekalongan yang mulai aktif di jagad persilatan Indonesia. Mereka mulai berkumpul di Grup Facebook Yubi Pekalongan.

MENTOR PRAKTISI dan AKADEMISI sama-sama PENTING. MENTOR dari kawan sekomunitas pun juga PENTING. Kedua MENTOR (GURU) tersebut sama PENTING.

Kembali ke awal. Jika seseorang belum menemukan 'THE STRONG WHY', boleh jadi ketika berwirausaha dan menemukan masalah, maka ia mudah terkapar dalam kenestapaan. Jika masih bingung mengenai 'THE STRONG WHY', maka keputusan MENCARI bisa menjadi KEPUTUSAN TEPAT. FOKUS pada pencarian 'THE STRONG WHY'. Ketika sudah menemukannya, maka FOKUS pada faktor 'WHY' dalam bertahan dalam proses yang dijalani. Ketika sudah berjalan, NIKMATI PROSES yang ada. FOKUS pada PROSES.

FAKTOR PENENTU

Hal yang jauh lebih penting dari hal itu semua, sekalipun 'THE STRONG WHY' adalah Faktor TAQWA. RIDHO ALLAH menjadi tumpuan.

Untuk apa kekayaan berlimpah ketika ALLAH TIDAK RIDHO dengan proses yang dijalaninya?

Untuk apa rumah mewah dan mobil berjejer rapi, ketika TIDAK ADA KEBERKAHAN di dalamnya?

Seseorang yang beriman kepada ALLAH, tentu percaya bahwa REZEKI beragam rupa, dan REZEKI hanya DATANG dari ALLAH.

ALLAH MAHA ESA. Tidak ada Tuhan selain ALLAH.

Perbaiki kualitas ibadah. Perkuat hati. Berikan asupan GIZI TERBAIK kepada ruh yang ada dalam jasad.

Seorang bijak pernah mengatakan:

"Jika badan lapar, maka makanannya bisa berupa nasi dan lauk pauk. Ketika ruh lapar, maka makanannya adalah ibadah."
TAK ADA satupun daun yang jatuh ke bumi TANPA IZIN ALLAH. Begitu pula dengan hidup seseorang, TAK ADA kesuksesan TANPA IZIN ALLAH. Wallahu a'lam.

Salam hangat,

Muhammad Nurul Hakim

* * *

Langganan Artikel

Selain artikel, saya juga membagikan info mengenai edukasi bisnis, pengembangan diri dan penawaran menarik. Masukkan nama dan email Anda di sini.
Powered by Kirim.Email

Sabtu, 03 November 2018

Kisah Remaja Sukses, Tembus Omset Ratusan Juta Per Bulan

Ledakan pengguna internet belakangan ini menggila. Seorang pembelajar yang baru saja masuk ke dunia digital, sudah bisa mengklaim dirinya MASTAH.

Anak muda-mudi berlimpah materi mulai bermunculan. Materi berlimpah didapat dengan relatif mudah melalui ketak-ketik status di media sosial.

Ada sebuah fenomena mengenai seorang remaja yang dianggap sukses oleh masyarakat digital. Sukses tembus omset ratusan juta per bulan.

Awalnya belajar hal sederhana, dia praktek, lalu berhasil. Tembus omset jutaan rupiah dalam waktu singkat. Tembus profit jutaan rupiah secara instan.

ilustrasi pixabay.com

Ketika sebagian orang berjuang susah payah mendapatkan penghasilan dari beriklan di sosial media, sebagian yang lain berhasil mencapai omset di angka jutaan, belasan juta, bahkan ratusan juta dengan sekali-dua kali promosi saja. Rezeki tak tertukar, rezeki tak tertakar. Rezeki unlimited. Tanpa batas.

Praktek teknik pertama begitu memuaskan hati, berlanjutlah dia belajar teknik copywriting. Teknik menulis promosinya mulai meningkat semakin terasah. Skill persuasinya semakin tajam. Dia mudah mempengaruhi orang yang tak tertarik produknya sedikitpun berubah menjadi tertarik, bahkan segera membeli produknya.

Praktek teknik copywriting berhasil, rasa puas muncul di hatinya.

Screenshot hasil closingnya diunggah ke akun sosial media. Mulailah mengompori kawan-kawan lain agar terjun juga di dunia digital. Kata dia, sayang kalau tak memanfaatkan kehebatan internet. "Kalau nggak nyari duit di internet, rugi banget, Bro!", begitu celotehnya.

Gaya menulisnya mulai sok-sokan. Sudah berasa hebat. Sudah berasa MASTAH. Boleh jadi, dia tidak sadar bahwa dia sedang menunjukkan: “ini lho saya, berhasil sukses meraup jutaan rupiah dari internet doang.”

Bisa jadi dia tak sadar bahwa dia sedang unjuk kekuatan, personal powernya diumbar. Bahkan beberapa kawan mulai ilang feeling dengan dia. Sebagian kawan mungkin berpikir: “ini anak sombong amat. Baru aja sukses udah takabur.”

Astaghfirullah..

SILATURAHIM TERGADAIKAN

Bahkan miris, silaturahim secara langsung rela digantikannya dengan aplikasi BBM, Whats App, Line, Path dan semacamnya.

Aplikasi messenger diklaim sebagai pengganti silaturahim, yang dapat mendekatkan yang jauh. Namun faktanya, aplikasi tersebut bisa menjauhkan yang dekat. Terkadang dia dan kawannya duduk bersebelahan namun sama-sama sibuk dengan ponsel pintarnya masing-masing.

Boleh jadi dia lupa bahwa kelak ketika dia meninggal, orang-orang terdekatnya yang mengantarkan sampai ke liang kuburnya. Rumah menuju alam berikutnya. Kenalannya di sosial media, bisa jadi hanya mengirimkan pesan: “Semoga dosa-dosamu diampuni Allah, dan mendapat tempat terbaik di sisiNYA ya, Bro...”

Seorang guru pernah mengatakan bahwa kematian adalah nasehat terbaik.

Tarik nafas dalam-dalam.

Hembuskan perlahan.

Semoga dengan mengingat mati, maka kita siap merenungi kehidupan kita saat ini. Kita tahu apa yang perlu kita lakukan. Jika masih bingung, tanyakan pada hati kecil kita.

Berkacalah pada cermin yang besar dan bening, boleh jadi si remaja yang saya ceritakan adalah orang yang berada di hadapan kita saat ini. Siapapun bisa menjadi tokoh si remaja sukses tadi. Mungkin si tokoh tadi adalah kita.

Semoga tulisan ini bermanfaat. Jika tak bermanfaat, tak perlu dibagikan kepada sahabat terbaik kamu. :)

Salam,

Muhammad Nurul Hakim
Penulis www.HakimJASA.net

* * *

Langganan Artikel

Selain artikel, saya juga membagikan info mengenai edukasi bisnis, pengembangan diri dan penawaran menarik. Masukkan nama dan email Anda di sini.
Powered by Kirim.Email

Senin, 25 Juni 2018

Yang Itu, Mas...

Cuaca 25 Juni sore kemarin cukup mendung. Sepeda motor ku parkir tepat di depan sebuah gerobak.

Sebelum berhenti, dari jauh ku lihat ada buah durian menggantung di gerobak tersebut. Itulah alasanku berhenti di sana.

Istriku minta dibelikan Es Durian Ketan. Ia dapat rekomendasi Es Durian Ketan enak di alun-alun Kota Pekalongan dari saudara. Lokasinya di sekitar kantor-kantor travel, di sebelah utara lapangan alun-alun.

"Nah, ini dia tempatnya...", pikirku.

Ku lihat ada seorang bapak sedang duduk di bangku area gerobak. Ku tanyai, "Masih ada, Pak?"

Bapak tersebut bangkit dari duduknya. Menuju ke arahku. "Masih ada apa, Mas?", ia tanya balik.

"Es Ketan Durian, Pak..."

"Masih..."

"Aku beli 2 bungkus ya, Pak..."

Bapak tersebut bersiap di gerobaknya.

"Es Ketan Durian..", aku mengulang pesananku.

"Oh, kalau Es Ketan Durian yang itu, Mas...", kata bapak itu sambil mengacungkan jari ke arah timur. Ternyata bapak tersebut tak terlalu mendengar pesananku di awal percakapan tadi.

Di seberang jalan dari area gerobak tempatku berdiri, ada gerobak durian yang lain.

"Ngapunten (Maaf) kalau gitu, Pak. Nggak jadi beli, Pak..."

"Iya, gak papa, Mas...", sang bapak berbesar hati merelakan calon konsumennya sore itu. Calon konsumen yang salah tujuan.



Aku berlalu dari hadapan bapak tersebut. Sepeda motor tetap berdiri tegak di tempatnya. Sengaja ku tinggal di sana. Aku memilih berjalan kaki menuju ke gerobak kedua.

Di gerobak kedua, terpampang jelas tulisan ES DURIAN KETAN. Ku yakin 100%, kali ini tujuanku tak salah.

Ternyata aku baru sadar, ketika pesan ke bapak di gerobak pertama tadi, aku salah sebut nama. Yang benar bukan Es Ketan Durian, melainkan Es Durian Ketan. Terbalik nama.

Ku datangi pemuda yang dekat dengan gerobak kedua. Ku asumsikan ia adalah penjualnya.

"Mas, masih ada?", tanyaku.

"Masih, Mas..."

"Beli 2 bungkus, Mas..."

"Iya, Mas..."

Ku duduk di bangku plastik. Menanti pesananku.

"Aku tadi salah tempat, Mas. Ku pikir tadi di situ, ternyata di sini.", kataku sambil menunjuk ke gerobak pertama dan gerobak kedua.

Aku melanjutkan kalimatku, "Istriku dapet rekomendasi Es Durian Ketan enak di alun-alun Pekalongan dari saudara."

Mas penjualnya mengangguk sambil nyengir.

"Tinggal kita buktikan, beneran enak, nggak...", lanjutku. Si Masnya makin nyengir.

Tak ada lima menit, pesananku jadi. Si Mas tersebut menyodorkan sebungkus plastik putih berisi 2 bungkus Es Durian Ketan kepadaku.

"Berapa, Mas?"

"Tiga puluh ribu, Mas..."

Ku berikan uang lima puluh ribu kepadanya. Dengan cekatan, ia memberikan uang kembalian. Dua lembar uang sepuluh ribu.

"Maturnuwun, Mas...", katanya padaku.

"Sami-sami...", jawabku lalu beranjak dari hadapannya.

Aku bergegas menuju sepeda motor yang ku parkir di dekat gerobak pertama. Begitu berdiri tepat di sebelah sepeda motor, ada seorang lelaki berkendara sepeda motor menghampiri gerobak di dekatku.

Ku lihat lelaki pengendara motor langsung memesan es durian dari si bapak.

Rezeki tak kemana. Bersaing sehat tak mengapa. Berbesar hati bagian dari mentalitas.

Semoga bapak gerobak durian pertama dan si mas gerobak kedua makin lancar dan berkah rezekinya. Aamiin...

NB:
Isi percakapan yang ku tulis tidak 100% sama dengan kejadiannya, tapi ku upayakan setepat mungkin seingatku.

Pekalongan, 26 Juni 2018

Muhammad Nurul Hakim
www.LARIZKA.com

Jumat, 20 April 2018

Anda Mau TRIAL & ERROR Menghabiskan Waktu, Tenaga dan Uang Sampai Berapa Banyak Lagi?

Yes...

Saya lengkapi pertanyaan di atas, ya...

"Coba dipikir secara jernih, kalau sudah ada FORMULA TOKCERnya, Anda mau TRIAL & ERROR menghabiskan waktu, tenaga dan uang sampai berapa banyak lagi?"

[Akhirnya Buku Buka Langsung Laris Dicetak Lagi!]


Sudah tahu buku Buka Langsung Laris (BLL), karya Jaya Setiabudi?




Setelah sempat kosong hampir setahun, buku BLL yang telah terjual puluhan ribu copy , kini dicetak ulang.

Apa sih resep rahasia Buka Langsung Laris?

1. Bidik Pasar Potensial; menemukan celah pasar yang tak terlihat orang lain.

2. Produk Ngangenin; menciptakan produk yang ingin memuaskan pelanggan.

3. Merk yang Ngetop; bagaimana merek Anda akan menjadi yang pertama muncul di benak pelanggan.

4. Kemasan Pertama Diambil; kemasan menarik yang membuat orang akan langsung membeli produk Anda.

5. Saluran D=P; memasarkan produk tidak perlu merogoh kocek sendiri.

6. Penyebar Virus; kekuatan produk Anda yang menyebar dengan sendirinya.

7. Pengungkit Konversi; bagaimana menaikkan penjualan Anda berkali-kali lipat.


Waduh, kalau semuanya dibahas dalam satu buku, pasti bukunya mahal! Kata siapa?



Saat ini ada PROMO paket DVD & Buku Buka Langsung Laris.
Harga normal memang Rp 1̶8̶9̶.̶0̶0̶0̶, tapi Harga PROMO hanya Rp 150.000 saja.

Cek infonya DI SINI ➡ bit.ly/caralarismanis

Coba dipikir secara jernih, kalau sudah ada FORMULA TOKCERnya, Anda mau TRIAL & ERROR menghabiskan waktu, tenaga dan uang sampai berapa banyak lagi?

Kabar baiknya, kalau Anda mau beli terpisah pun bisa.

Misalnya Anda suka baca buku, silakan pelajari materinya di Buku Buka Langsung Laris. Harganya Rp 89.000 aja,
KLIK ➡ http://yuk.bi/yb9ge5cbcl




Mungkin sebagian besar orang lebih suka menonton video karena dianggap lebih menarik. Jadi jangan khawatir, bagi Anda yang tak suka membaca buku, BLL juga tersedia dalam format DVD.



Harga DVD Buka Langsung Laris hanya Rp 100.000
KLIK aja ➡ http://yuk.bi/ybrriyrzs1

Kalau masih RAGU, silakan baca TESTIMONI berikut ini:






 Paket Buku & DVD Buka Langsung Laris


Kesimpulannya, Anda nggak harus beli dan pelajari materi-materinya sekarang juga, tapi coba Anda pikir lagi secara jernih:

"Anda mau TRIAL & ERROR menghabiskan waktu, tenaga dan uang sampai berapa banyak lagi?"

Senin, 09 April 2018

Urusanku Dengannya Belum Selesai

Mukena Larizka Official

Jum'at sekitar jam 11.15 aku bergegas memarkir sepeda motor di Stasiun Pekalongan.

Aku sedang berburu tiket menuju ke Bandung. Terburu-buru waktu itu. Salahku tak segera memesan tiket jauh-jauh hari yang lalu, kini aku harus berjibaku dengan keterbatasan tiket dan waktu.

Sasaran utamaku adalah loket pembelian tiket hari itu. Jadwal bidikanku Jum'at malam Sabtu. Malam harinya aku memang harus sudah berada di kereta jurusan Pekalongan - Bandung. Dua hari berikutnya ada agenda yang penting untuk ku ikuti.

Begitu berada di loket yang ku tuju, sayang seribu sayang, sang petugas menolak pembelianku melalui loket. Ia beralasan jadwal keberangkatan masih lama yakni untuk malam harinya, sedangkan antrian di loket masih sekitar 20an orang, lalu tiket kereta yang tersedia jurusan Bandung tinggal 2 kursi saja. Petugas loket KAI merekomendasikanku untuk melakukan pembelian melalui online saja.

WAW!!!

Sengaja aku datang seorang diri ke loket pembelian tiket di Stasiun Pekalongan karena berharap lekas dapat tiket ke Bandung, ternyata realita berjalan lain di luar harapan.

Aku duduk sejenak di kursi area loket tiket. Ku lempar pandanganku ke sekitar. Orang-orang duduk rapi menghadap ke arah jejeran loket yang tadi ku singgahi. Pandanganku berhenti ketika menatap mesin Finnet di pojok ruangan. Mesin tersebut membelakangi sederet orang-orang tadi.

Mesin Finnet di sana untuk membeli tiket secara online. Tinggal ketik-ketik sesuai form yang tersedia, maka tiket kereta cepat kita dapat.

Begitu melihat mesin Finnet tersebut, aku gerak cepat menghampirinya. Aku cek harga tiketnya Rp 360.000, dan di dompetku ada uang Rp 400.000 tunai yang baru saja ku tarik dari mesin ATM di tempat berbeda. Uang tersebut siap ku bayarkan untuk tiketku ke Bandung hari itu.

Alhamdulillah, beres mengisi form pembelian, aku masih mendapatkan tiket ke Bandung. Tinggal pembayarannya saja. Ku pilih pembayaran Cash, lalu ku masukkan uang lembaran seratus ribu satu per satu ke mesin Finnet.

Seratus ribu pertama masuk, seratus ribu kedua masuk, seratus ribu ketiga masuk, seratus ribu keempat masuk sebentar lalu mesin Finnet memuntahkan kembali. Ku coba masukkan lagi uang seratus ribu keempat, eh, dimuntahkan kembali. Ketiga kalinya ku coba, masih sama, mesin Finnet tak mau menerima uang seratus ribu keempatku. Uang keempat tersebut memang berbeda dari ketiga uang sebelumnya, ialah uang seratus ribu yang baru.

Waktu itu sudah mendekati jadwal Sholat Jum'at dan aku masih bersitegang dengan mesin Finnet. Ia menolak uangku yang masih fresh dari mesin ATM.

Ku cari solusi. Ku lempar lagi pandanganku ke sekeliling. Orang-orang yang tadi ku lihat duduk, telah membelakangiku. Seperti ku sampaikan tadi bahwa mesin Finnet memang berada di pojok membelakangi kursi antrian tiket.

Tapi ku lihat ada seorang pria yang duduk sendiri beberapa meter dari tempatku berdiri. Ia berkacamata hitam, duduk menggenggam ponsel yang tersambung kabel charger dengan stop kontak di dekatnya. Tas besar berada di dekat kakinya. Asumsiku, pria tersebut berencana berpergian menggunakan kereta. Tanpa berlama-lama, ku hampiri pria tersebut.

"Mas, maaf..."

Pria tersebut membuka kacamata hitamnya, "iya?", tanyanya.

"Boleh saya tukar uang seratus ribu saya? Uangnya nggak mau masuk di mesin Finnet, Mas...", pintaku menyodorkan uang seratus ribu keempatku tadi.

"Wah, kok bisa, ya?", tanyanya sambil meraba-raba uang tersebut. Ia sedang mengecek keaslian uang yang ku sodorkan.

"Nggak tahu, Mas. Padahal itu baru aja saya ambil dari ATM, Mas...", ku yakinkan pria tersebut bahwa uangku asli.

Pria itu membuka dompetnya, menyodorkanku uang seratus ribu model lama.

"Maturnuwun, Mas...", ku terima uang tersebut. Pria tersebut merespon dengan senyuman.

Ku berbalik badan darinya. Bergegas ku hampiri mesin Finnet kembali. Urusanku dengannya belum selesai.

Uang seratus ribu yang baru ku tukar segera ku masukkan ke mesin Finnet. Alhamdulillah, masuk! Lega hatiku.

Setelah bukti pembayaran tiket keluar dari mesin Finnet, aku segera meninggalkan tempat itu.



Melewati pria baik hati tadi, ku bilang, "Maturnuwun, Mas. Uangnya bisa masuk...". Ia senyum lagi.

Tak ku sangka, Allah menghadirkan solusi berupa kebaikan orang yang tak kukenal dan tak mengenalku.

Biar semakin lega, langsung aku cetak tiket ke Bandung di mesin printer kecil di dekat pintu masuk keberangkatan. Tinggal masukkan kode booking dari bukti pembayaran yang ada di struk mesin Finnet, dan tiket fisiknya aku pegang tak lama kemudian.

Meski sudah lega urusan tiket keberangkatan, tapi tetap saja aku pulang terburu-buru Jum'at siang itu. Jam sudah menunjukkan angka 11.40 WIB.

Jumat, 06 April 2018

Artikel Khusus Buat Juragan, Berisi Rahasia Bagaimana Bikin Jualan Laris

Bismillah...

Hari ini 6 April 2018 ketika saya mengetik artikel ini. Matahari sudah tenggelam. Langsung ketik artikel nggak pake lama.

Besok saya berada di Bandung InSyaa Allah, karena butuh silaturahim dan upgrade ilmu. Tepatnya di daerah Gegerkalong, markas besar Kampus Young Entrepreneur Academy yang punya website yea-indonesia.com.
Belajar apakah besok?
Sabtu - Ahad ini saya mau silaturahim dengan rekan-rekan pembelajar Affiliate Yubimall.com.
Apa itu Yubimall.com?
Intinya adalah marketplace khusus UKM. Detailnya silakan cek langsung dengan klik Yubimall.com. Biar nggak kebayang kemana-mana.
Lalu, affiliate itu apa, Mas?
Penjelasan gampangnya, affiliate ibarat makelar, tapi online. Kerjaannya menyebar link jualan biar closing.

Tak apa kalau mungkin kamu masih asing dengan istilah affiliate. Tapi prospek Affiliate di Indonesia semakin banyak. Terbukti munculnya banyak platform yang menyediakan pendaftaran affiliate, seperti Ratakan.com, lalu idaff.com, termasuk Yubimall.com yang menyokong laris manisnya produk UKM InSyaa Allah, dan masih banyak platform lain.

Hmm...

Tapi kalau membahas bisnis secara umum, siapa sih yang rela melakukan trial & error berbulan-bulan bahkan tahunan?

Siapa yang rela menghabiskan banyak budget untuk promosi tapi hasilnya nggak signifikan menaikkan penjualan?

Siapa pula yang ikhlas membiarkan waktunya habis untuk memulai usaha tanpa ilmu dan pengalaman?

Mendingan belajar dari mentor yang tepat, belajar dari pengalaman orang yang telah teruji di dunia wirausaha.
Siapa orangnya?
Contohnya Mas Jaya Setiabudi. Beliau sudah merasakan dunia wirausaha selama lebih dari 15 tahun. Bahkan beliau pula yang membangun Platform Toko Online Yukbisnis.com, Entrepreneur Camp, dan Kampus YEA. Beliau mendidik generasi pebisnis sedari muda. Beliau membangun mindset pengusaha yang melariskan produk dan jasa sesama UKM Indonesia. Istilah gaulnya: 'kentut dalam sarung'.

Nah, bicara tentang pebisnis muda, coba kita kenalan dengan Gazan Azka Ghafara. Ia pemilik bisnis Keripik Pisang Zanana.

Gazan ialah salah satu mentee Mas Jaya Setiabudi. Gazan termasuk anak muda yang tekun banget untuk urusan menggapai tujuannya. Nggak pake tapi, nggak pake nanti. Bahkan 7 Formula Buka Langsung Laris dipraktikkannya satu persatu hingga Zanana seperti sekarang ini.

Mau tahu sepak terjang Gazan yang telah diliput media? Sila klik:

- Gazan Azka Ghafara, Pemilik Usaha Zanana Chips: Sulap Modal Rp 1 Juta Jadi Omzet Ratusan Juta (Republika, November 2015)

- Gazan, Juragan Keripik Pisang yang Curi Perhatian (Kompas, November 2016)
Gazan, Juragan Keripik Pisang yang Curi Perhatian

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Gazan, Juragan Keripik Pisang yang Curi Perhatian", https://edukasi.kompas.com/read/2016/11/21/18553001/gazan.juragan.keripik.pisang.yang.curi.perhatian.
Penulis : Latief
Gazan, Juragan Keripik Pisang yang Curi Perhatian

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Gazan, Juragan Keripik Pisang yang Curi Perhatian", https://edukasi.kompas.com/read/2016/11/21/18553001/gazan.juragan.keripik.pisang.yang.curi.perhatian.
Penulis : Latief

Nah, kalau mau menyimak cerita Gazan secara langsung, tonton video rekaman bagaimana Gazan bertutur mengenai Tips Bisnis Buka Langsung Laris - Rahasia Booming Zanana.

Klik aja langsung:


Semoga bermanfaat.

Salam hangat dari Pekalongan,

Muhammad Nurul Hakim
www.hakimjasa.net