Sabtu, 03 November 2018

Kisah Remaja Sukses, Tembus Omset Ratusan Juta Per Bulan

Ledakan pengguna internet belakangan ini menggila. Seorang pembelajar yang baru saja masuk ke dunia digital, sudah bisa mengklaim dirinya MASTAH.

Anak muda-mudi berlimpah materi mulai bermunculan. Materi berlimpah didapat dengan relatif mudah melalui ketak-ketik status di media sosial.

Ada sebuah fenomena mengenai seorang remaja yang dianggap sukses oleh masyarakat digital. Sukses tembus omset ratusan juta per bulan.

Awalnya belajar hal sederhana, dia praktek, lalu berhasil. Tembus omset jutaan rupiah dalam waktu singkat. Tembus profit jutaan rupiah secara instan.

ilustrasi pixabay.com

Ketika sebagian orang berjuang susah payah mendapatkan penghasilan dari beriklan di sosial media, sebagian yang lain berhasil mencapai omset di angka jutaan, belasan juta, bahkan ratusan juta dengan sekali-dua kali promosi saja. Rezeki tak tertukar, rezeki tak tertakar. Rezeki unlimited. Tanpa batas.

Praktek teknik pertama begitu memuaskan hati, berlanjutlah dia belajar teknik copywriting. Teknik menulis promosinya mulai meningkat semakin terasah. Skill persuasinya semakin tajam. Dia mudah mempengaruhi orang yang tak tertarik produknya sedikitpun berubah menjadi tertarik, bahkan segera membeli produknya.

Praktek teknik copywriting berhasil, rasa puas muncul di hatinya.

Screenshot hasil closingnya diunggah ke akun sosial media. Mulailah mengompori kawan-kawan lain agar terjun juga di dunia digital. Kata dia, sayang kalau tak memanfaatkan kehebatan internet. "Kalau nggak nyari duit di internet, rugi banget, Bro!", begitu celotehnya.

Gaya menulisnya mulai sok-sokan. Sudah berasa hebat. Sudah berasa MASTAH. Boleh jadi, dia tidak sadar bahwa dia sedang menunjukkan: “ini lho saya, berhasil sukses meraup jutaan rupiah dari internet doang.”

Bisa jadi dia tak sadar bahwa dia sedang unjuk kekuatan, personal powernya diumbar. Bahkan beberapa kawan mulai ilang feeling dengan dia. Sebagian kawan mungkin berpikir: “ini anak sombong amat. Baru aja sukses udah takabur.”

Astaghfirullah..

SILATURAHIM TERGADAIKAN

Bahkan miris, silaturahim secara langsung rela digantikannya dengan aplikasi BBM, Whats App, Line, Path dan semacamnya.

Aplikasi messenger diklaim sebagai pengganti silaturahim, yang dapat mendekatkan yang jauh. Namun faktanya, aplikasi tersebut bisa menjauhkan yang dekat. Terkadang dia dan kawannya duduk bersebelahan namun sama-sama sibuk dengan ponsel pintarnya masing-masing.

Boleh jadi dia lupa bahwa kelak ketika dia meninggal, orang-orang terdekatnya yang mengantarkan sampai ke liang kuburnya. Rumah menuju alam berikutnya. Kenalannya di sosial media, bisa jadi hanya mengirimkan pesan: “Semoga dosa-dosamu diampuni Allah, dan mendapat tempat terbaik di sisiNYA ya, Bro...”

Seorang guru pernah mengatakan bahwa kematian adalah nasehat terbaik.

Tarik nafas dalam-dalam.

Hembuskan perlahan.

Semoga dengan mengingat mati, maka kita siap merenungi kehidupan kita saat ini. Kita tahu apa yang perlu kita lakukan. Jika masih bingung, tanyakan pada hati kecil kita.

Berkacalah pada cermin yang besar dan bening, boleh jadi si remaja yang saya ceritakan adalah orang yang berada di hadapan kita saat ini. Siapapun bisa menjadi tokoh si remaja sukses tadi. Mungkin si tokoh tadi adalah kita.

Semoga tulisan ini bermanfaat. Jika tak bermanfaat, tak perlu dibagikan kepada sahabat terbaik kamu. :)

Salam,

Muhammad Nurul Hakim
Penulis www.HakimJASA.net

* * *

Langganan Artikel

Selain artikel, saya juga membagikan info mengenai edukasi bisnis, pengembangan diri dan penawaran menarik. Masukkan nama dan email Anda di sini.
Powered by Kirim.Email

Senin, 25 Juni 2018

Yang Itu, Mas...

Cuaca 25 Juni sore kemarin cukup mendung. Sepeda motor ku parkir tepat di depan sebuah gerobak.

Sebelum berhenti, dari jauh ku lihat ada buah durian menggantung di gerobak tersebut. Itulah alasanku berhenti di sana.

Istriku minta dibelikan Es Durian Ketan. Ia dapat rekomendasi Es Durian Ketan enak di alun-alun Kota Pekalongan dari saudara. Lokasinya di sekitar kantor-kantor travel, di sebelah utara lapangan alun-alun.

"Nah, ini dia tempatnya...", pikirku.

Ku lihat ada seorang bapak sedang duduk di bangku area gerobak. Ku tanyai, "Masih ada, Pak?"

Bapak tersebut bangkit dari duduknya. Menuju ke arahku. "Masih ada apa, Mas?", ia tanya balik.

"Es Ketan Durian, Pak..."

"Masih..."

"Aku beli 2 bungkus ya, Pak..."

Bapak tersebut bersiap di gerobaknya.

"Es Ketan Durian..", aku mengulang pesananku.

"Oh, kalau Es Ketan Durian yang itu, Mas...", kata bapak itu sambil mengacungkan jari ke arah timur. Ternyata bapak tersebut tak terlalu mendengar pesananku di awal percakapan tadi.

Di seberang jalan dari area gerobak tempatku berdiri, ada gerobak durian yang lain.

"Ngapunten (Maaf) kalau gitu, Pak. Nggak jadi beli, Pak..."

"Iya, gak papa, Mas...", sang bapak berbesar hati merelakan calon konsumennya sore itu. Calon konsumen yang salah tujuan.



Aku berlalu dari hadapan bapak tersebut. Sepeda motor tetap berdiri tegak di tempatnya. Sengaja ku tinggal di sana. Aku memilih berjalan kaki menuju ke gerobak kedua.

Di gerobak kedua, terpampang jelas tulisan ES DURIAN KETAN. Ku yakin 100%, kali ini tujuanku tak salah.

Ternyata aku baru sadar, ketika pesan ke bapak di gerobak pertama tadi, aku salah sebut nama. Yang benar bukan Es Ketan Durian, melainkan Es Durian Ketan. Terbalik nama.

Ku datangi pemuda yang dekat dengan gerobak kedua. Ku asumsikan ia adalah penjualnya.

"Mas, masih ada?", tanyaku.

"Masih, Mas..."

"Beli 2 bungkus, Mas..."

"Iya, Mas..."

Ku duduk di bangku plastik. Menanti pesananku.

"Aku tadi salah tempat, Mas. Ku pikir tadi di situ, ternyata di sini.", kataku sambil menunjuk ke gerobak pertama dan gerobak kedua.

Aku melanjutkan kalimatku, "Istriku dapet rekomendasi Es Durian Ketan enak di alun-alun Pekalongan dari saudara."

Mas penjualnya mengangguk sambil nyengir.

"Tinggal kita buktikan, beneran enak, nggak...", lanjutku. Si Masnya makin nyengir.

Tak ada lima menit, pesananku jadi. Si Mas tersebut menyodorkan sebungkus plastik putih berisi 2 bungkus Es Durian Ketan kepadaku.

"Berapa, Mas?"

"Tiga puluh ribu, Mas..."

Ku berikan uang lima puluh ribu kepadanya. Dengan cekatan, ia memberikan uang kembalian. Dua lembar uang sepuluh ribu.

"Maturnuwun, Mas...", katanya padaku.

"Sami-sami...", jawabku lalu beranjak dari hadapannya.

Aku bergegas menuju sepeda motor yang ku parkir di dekat gerobak pertama. Begitu berdiri tepat di sebelah sepeda motor, ada seorang lelaki berkendara sepeda motor menghampiri gerobak di dekatku.

Ku lihat lelaki pengendara motor langsung memesan es durian dari si bapak.

Rezeki tak kemana. Bersaing sehat tak mengapa. Berbesar hati bagian dari mentalitas.

Semoga bapak gerobak durian pertama dan si mas gerobak kedua makin lancar dan berkah rezekinya. Aamiin...

NB:
Isi percakapan yang ku tulis tidak 100% sama dengan kejadiannya, tapi ku upayakan setepat mungkin seingatku.

Pekalongan, 26 Juni 2018

Muhammad Nurul Hakim
www.LARIZKA.com

Jumat, 20 April 2018

Anda Mau TRIAL & ERROR Menghabiskan Waktu, Tenaga dan Uang Sampai Berapa Banyak Lagi?

Yes...

Saya lengkapi pertanyaan di atas, ya...

"Coba dipikir secara jernih, kalau sudah ada FORMULA TOKCERnya, Anda mau TRIAL & ERROR menghabiskan waktu, tenaga dan uang sampai berapa banyak lagi?"

[Akhirnya Buku Buka Langsung Laris Dicetak Lagi!]


Sudah tahu buku Buka Langsung Laris (BLL), karya Jaya Setiabudi?




Setelah sempat kosong hampir setahun, buku BLL yang telah terjual puluhan ribu copy , kini dicetak ulang.

Apa sih resep rahasia Buka Langsung Laris?

1. Bidik Pasar Potensial; menemukan celah pasar yang tak terlihat orang lain.

2. Produk Ngangenin; menciptakan produk yang ingin memuaskan pelanggan.

3. Merk yang Ngetop; bagaimana merek Anda akan menjadi yang pertama muncul di benak pelanggan.

4. Kemasan Pertama Diambil; kemasan menarik yang membuat orang akan langsung membeli produk Anda.

5. Saluran D=P; memasarkan produk tidak perlu merogoh kocek sendiri.

6. Penyebar Virus; kekuatan produk Anda yang menyebar dengan sendirinya.

7. Pengungkit Konversi; bagaimana menaikkan penjualan Anda berkali-kali lipat.


Waduh, kalau semuanya dibahas dalam satu buku, pasti bukunya mahal! Kata siapa?



Saat ini ada PROMO paket DVD & Buku Buka Langsung Laris.
Harga normal memang Rp 1̶8̶9̶.̶0̶0̶0̶, tapi Harga PROMO hanya Rp 150.000 saja.

Cek infonya DI SINI ➡ bit.ly/caralarismanis

Coba dipikir secara jernih, kalau sudah ada FORMULA TOKCERnya, Anda mau TRIAL & ERROR menghabiskan waktu, tenaga dan uang sampai berapa banyak lagi?

Kabar baiknya, kalau Anda mau beli terpisah pun bisa.

Misalnya Anda suka baca buku, silakan pelajari materinya di Buku Buka Langsung Laris. Harganya Rp 89.000 aja,
KLIK ➡ http://yuk.bi/yb9ge5cbcl




Mungkin sebagian besar orang lebih suka menonton video karena dianggap lebih menarik. Jadi jangan khawatir, bagi Anda yang tak suka membaca buku, BLL juga tersedia dalam format DVD.



Harga DVD Buka Langsung Laris hanya Rp 100.000
KLIK aja ➡ http://yuk.bi/ybrriyrzs1

Kalau masih RAGU, silakan baca TESTIMONI berikut ini:






 Paket Buku & DVD Buka Langsung Laris


Kesimpulannya, Anda nggak harus beli dan pelajari materi-materinya sekarang juga, tapi coba Anda pikir lagi secara jernih:

"Anda mau TRIAL & ERROR menghabiskan waktu, tenaga dan uang sampai berapa banyak lagi?"

Senin, 09 April 2018

Urusanku Dengannya Belum Selesai

Mukena Larizka Official

Jum'at sekitar jam 11.15 aku bergegas memarkir sepeda motor di Stasiun Pekalongan.

Aku sedang berburu tiket menuju ke Bandung. Terburu-buru waktu itu. Salahku tak segera memesan tiket jauh-jauh hari yang lalu, kini aku harus berjibaku dengan keterbatasan tiket dan waktu.

Sasaran utamaku adalah loket pembelian tiket hari itu. Jadwal bidikanku Jum'at malam Sabtu. Malam harinya aku memang harus sudah berada di kereta jurusan Pekalongan - Bandung. Dua hari berikutnya ada agenda yang penting untuk ku ikuti.

Begitu berada di loket yang ku tuju, sayang seribu sayang, sang petugas menolak pembelianku melalui loket. Ia beralasan jadwal keberangkatan masih lama yakni untuk malam harinya, sedangkan antrian di loket masih sekitar 20an orang, lalu tiket kereta yang tersedia jurusan Bandung tinggal 2 kursi saja. Petugas loket KAI merekomendasikanku untuk melakukan pembelian melalui online saja.

WAW!!!

Sengaja aku datang seorang diri ke loket pembelian tiket di Stasiun Pekalongan karena berharap lekas dapat tiket ke Bandung, ternyata realita berjalan lain di luar harapan.

Aku duduk sejenak di kursi area loket tiket. Ku lempar pandanganku ke sekitar. Orang-orang duduk rapi menghadap ke arah jejeran loket yang tadi ku singgahi. Pandanganku berhenti ketika menatap mesin Finnet di pojok ruangan. Mesin tersebut membelakangi sederet orang-orang tadi.

Mesin Finnet di sana untuk membeli tiket secara online. Tinggal ketik-ketik sesuai form yang tersedia, maka tiket kereta cepat kita dapat.

Begitu melihat mesin Finnet tersebut, aku gerak cepat menghampirinya. Aku cek harga tiketnya Rp 360.000, dan di dompetku ada uang Rp 400.000 tunai yang baru saja ku tarik dari mesin ATM di tempat berbeda. Uang tersebut siap ku bayarkan untuk tiketku ke Bandung hari itu.

Alhamdulillah, beres mengisi form pembelian, aku masih mendapatkan tiket ke Bandung. Tinggal pembayarannya saja. Ku pilih pembayaran Cash, lalu ku masukkan uang lembaran seratus ribu satu per satu ke mesin Finnet.

Seratus ribu pertama masuk, seratus ribu kedua masuk, seratus ribu ketiga masuk, seratus ribu keempat masuk sebentar lalu mesin Finnet memuntahkan kembali. Ku coba masukkan lagi uang seratus ribu keempat, eh, dimuntahkan kembali. Ketiga kalinya ku coba, masih sama, mesin Finnet tak mau menerima uang seratus ribu keempatku. Uang keempat tersebut memang berbeda dari ketiga uang sebelumnya, ialah uang seratus ribu yang baru.

Waktu itu sudah mendekati jadwal Sholat Jum'at dan aku masih bersitegang dengan mesin Finnet. Ia menolak uangku yang masih fresh dari mesin ATM.

Ku cari solusi. Ku lempar lagi pandanganku ke sekeliling. Orang-orang yang tadi ku lihat duduk, telah membelakangiku. Seperti ku sampaikan tadi bahwa mesin Finnet memang berada di pojok membelakangi kursi antrian tiket.

Tapi ku lihat ada seorang pria yang duduk sendiri beberapa meter dari tempatku berdiri. Ia berkacamata hitam, duduk menggenggam ponsel yang tersambung kabel charger dengan stop kontak di dekatnya. Tas besar berada di dekat kakinya. Asumsiku, pria tersebut berencana berpergian menggunakan kereta. Tanpa berlama-lama, ku hampiri pria tersebut.

"Mas, maaf..."

Pria tersebut membuka kacamata hitamnya, "iya?", tanyanya.

"Boleh saya tukar uang seratus ribu saya? Uangnya nggak mau masuk di mesin Finnet, Mas...", pintaku menyodorkan uang seratus ribu keempatku tadi.

"Wah, kok bisa, ya?", tanyanya sambil meraba-raba uang tersebut. Ia sedang mengecek keaslian uang yang ku sodorkan.

"Nggak tahu, Mas. Padahal itu baru aja saya ambil dari ATM, Mas...", ku yakinkan pria tersebut bahwa uangku asli.

Pria itu membuka dompetnya, menyodorkanku uang seratus ribu model lama.

"Maturnuwun, Mas...", ku terima uang tersebut. Pria tersebut merespon dengan senyuman.

Ku berbalik badan darinya. Bergegas ku hampiri mesin Finnet kembali. Urusanku dengannya belum selesai.

Uang seratus ribu yang baru ku tukar segera ku masukkan ke mesin Finnet. Alhamdulillah, masuk! Lega hatiku.

Setelah bukti pembayaran tiket keluar dari mesin Finnet, aku segera meninggalkan tempat itu.



Melewati pria baik hati tadi, ku bilang, "Maturnuwun, Mas. Uangnya bisa masuk...". Ia senyum lagi.

Tak ku sangka, Allah menghadirkan solusi berupa kebaikan orang yang tak kukenal dan tak mengenalku.

Biar semakin lega, langsung aku cetak tiket ke Bandung di mesin printer kecil di dekat pintu masuk keberangkatan. Tinggal masukkan kode booking dari bukti pembayaran yang ada di struk mesin Finnet, dan tiket fisiknya aku pegang tak lama kemudian.

Meski sudah lega urusan tiket keberangkatan, tapi tetap saja aku pulang terburu-buru Jum'at siang itu. Jam sudah menunjukkan angka 11.40 WIB.

Jumat, 06 April 2018

Artikel Khusus Buat Juragan, Berisi Rahasia Bagaimana Bikin Jualan Laris

Bismillah...

Hari ini 6 April 2018 ketika saya mengetik artikel ini. Matahari sudah tenggelam. Langsung ketik artikel nggak pake lama.

Besok saya berada di Bandung InSyaa Allah, karena butuh silaturahim dan upgrade ilmu. Tepatnya di daerah Gegerkalong, markas besar Kampus Young Entrepreneur Academy yang punya website yea-indonesia.com.
Belajar apakah besok?
Sabtu - Ahad ini saya mau silaturahim dengan rekan-rekan pembelajar Affiliate Yubimall.com.
Apa itu Yubimall.com?
Intinya adalah marketplace khusus UKM. Detailnya silakan cek langsung dengan klik Yubimall.com. Biar nggak kebayang kemana-mana.
Lalu, affiliate itu apa, Mas?
Penjelasan gampangnya, affiliate ibarat makelar, tapi online. Kerjaannya menyebar link jualan biar closing.

Tak apa kalau mungkin kamu masih asing dengan istilah affiliate. Tapi prospek Affiliate di Indonesia semakin banyak. Terbukti munculnya banyak platform yang menyediakan pendaftaran affiliate, seperti Ratakan.com, lalu idaff.com, termasuk Yubimall.com yang menyokong laris manisnya produk UKM InSyaa Allah, dan masih banyak platform lain.

Hmm...

Tapi kalau membahas bisnis secara umum, siapa sih yang rela melakukan trial & error berbulan-bulan bahkan tahunan?

Siapa yang rela menghabiskan banyak budget untuk promosi tapi hasilnya nggak signifikan menaikkan penjualan?

Siapa pula yang ikhlas membiarkan waktunya habis untuk memulai usaha tanpa ilmu dan pengalaman?

Mendingan belajar dari mentor yang tepat, belajar dari pengalaman orang yang telah teruji di dunia wirausaha.
Siapa orangnya?
Contohnya Mas Jaya Setiabudi. Beliau sudah merasakan dunia wirausaha selama lebih dari 15 tahun. Bahkan beliau pula yang membangun Platform Toko Online Yukbisnis.com, Entrepreneur Camp, dan Kampus YEA. Beliau mendidik generasi pebisnis sedari muda. Beliau membangun mindset pengusaha yang melariskan produk dan jasa sesama UKM Indonesia. Istilah gaulnya: 'kentut dalam sarung'.

Nah, bicara tentang pebisnis muda, coba kita kenalan dengan Gazan Azka Ghafara. Ia pemilik bisnis Keripik Pisang Zanana.

Gazan ialah salah satu mentee Mas Jaya Setiabudi. Gazan termasuk anak muda yang tekun banget untuk urusan menggapai tujuannya. Nggak pake tapi, nggak pake nanti. Bahkan 7 Formula Buka Langsung Laris dipraktikkannya satu persatu hingga Zanana seperti sekarang ini.

Mau tahu sepak terjang Gazan yang telah diliput media? Sila klik:

- Gazan Azka Ghafara, Pemilik Usaha Zanana Chips: Sulap Modal Rp 1 Juta Jadi Omzet Ratusan Juta (Republika, November 2015)

- Gazan, Juragan Keripik Pisang yang Curi Perhatian (Kompas, November 2016)
Gazan, Juragan Keripik Pisang yang Curi Perhatian

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Gazan, Juragan Keripik Pisang yang Curi Perhatian", https://edukasi.kompas.com/read/2016/11/21/18553001/gazan.juragan.keripik.pisang.yang.curi.perhatian.
Penulis : Latief
Gazan, Juragan Keripik Pisang yang Curi Perhatian

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Gazan, Juragan Keripik Pisang yang Curi Perhatian", https://edukasi.kompas.com/read/2016/11/21/18553001/gazan.juragan.keripik.pisang.yang.curi.perhatian.
Penulis : Latief

Nah, kalau mau menyimak cerita Gazan secara langsung, tonton video rekaman bagaimana Gazan bertutur mengenai Tips Bisnis Buka Langsung Laris - Rahasia Booming Zanana.

Klik aja langsung:


Semoga bermanfaat.

Salam hangat dari Pekalongan,

Muhammad Nurul Hakim
www.hakimjasa.net

Selasa, 06 Maret 2018

Aku Nggak Tahan Pengen Ngomong...

 
Seorang gadis berkerudung pink mendekatiku. Ia tersenyum.

"Maaf, Mbak... Resleting tasnya Mbak terbuka...", katanya sambil mengarahkan jari telunjuk ke tas putih yang aku tenteng di tangan kanan.

"Astaghfirullah...", aku kaget. Segera ku tutup resleting tasku. "Makasih banyak ya, Mbak....", lanjutku.

"Iya, Mbak.. Sama-sama...", ia tersenyum sembari berlalu dari hadapanku.

Aku bersyukur banget. Jaman sekarang masih ada orang baik hati yang mengingatkan orang lain, bahkan orang yang tak ia kenal. Alhamdulillah.

Suasana pagi di pasar saat itu sangatlah ramai. Tak hanya wanita paruh baya yang mengerumuni para penjual di pasar, namun kaum mamah muda pun tak kalah eksis. Ada mamah muda yang berbelanja sambil menggendong bayinya.

Sebentar.. Melihat mamah muda menggendong bayi, aku jadi teringat sebuah info tentang bahaya yang mengancam ibu dan anak di tempat publik yang beredar di socmed. Bahkan masuk ke nomor WhatsAppku.

Hasratku ingin nyamperin si mamah muda tadi, tapi kok malu. Kenal enggak, tapi kok tiba-tiba mau ngajak ngobrol. Bagiku, itu hal aneh.

Tapi, kenapa Mbak berkerudung pink yang tak sempat ku tanya namanya tadi, kok berani ajak ngobrol aku, ya? Batinku berkonflik. Antara mau ajak ngomong dan rasa malu yang makin menjadi.

Ah... Tadi kan aku mau belanja sayuran, tapi kok malah pusing mikirin si mamah muda dan bayinya itu, sih...

Ponselku berdering. Diandra yang menelpon.

"Assalamu'alaikum, Dian...", ku terima telpon dari Diandra.

"Wa'alaikumussalam, Mina..."

"Tumben telepon sepagi ini. Ada apa, Di?"

"Hehehe.. Pengen aja, Min.. Masak nggak boleh, siiih?"

"Boleh, doooong... Kamu apa kabar? Lagi dimana sekarang? Skripsimu udah beresan?"

"Buseeet, satu-satu atuh tanyanya... Hehe..."

Aku nyengir. Ku bayangkan gimana ekspresi wajah Diandra sewaktu ku berondong pertanyaan tadi.

"Alhamdulillah, kabar aku baik, Mina sayang... Sekarang sih masih di Bogor. Masih setia berkutat sama skripsi. Lumayan sih, udah Bab 3. Bentar lagi beresan.", lanjut Diandra.

"Aamiin... Semoga cepet lulus ya, Di.. Udah ditungguin calon suamimu, lho..."

"Siapa, ih. Belum ada tahuuu..."

"Ya, kan calon suamimu di masa depan yang menantimu.. Eaaa..."

"Hahahahaaa....", tawa Diandra pecah di ujung telepon sana. Tuh anak memang humoris banget. Gampang tertawa. Terpancing humor sedikit langsung pecah tawa.

"Min, kok rame banget... Kamu lagi dimana, sih?"

"Iya, rame banget... Ini aku lagi di pasar, Di. Sekali-kali belanja di pasar. Latian jadi ibu, dong..."

"Wuih, cieee.... Yang bentar lagi mau nikahan sama si Abang... Yang rajin ya belanjanya... Yang bener milih barang belanjaannya..."

"Iya, Buk.... Hahaha... Tapi aku lagi galau, nih..."

"Eh, galau kenapa, Min?"

"Tadi ada cewek nyamperin aku. Ngingetin kalau resleting tasku terbuka. Bersyukur banget ada yang ngingetin aku. Kan bisa runyam kalau ada orang jahat yang nyopet isi tasku..."

"Alhamdulillah... Bagus itu... Lha terus, galaunya di bagian mana?"

"Terus... Aku liat ada ibu muda yang gendong anak lagi belanja di sini. Aku inget ada broadcast di WA aku kemarin..."

"Weh... Broadcast apaan, Min?"

"Tentang bahaya yang mengintai ibu muda yang bawa bayi di pasar itu, lho... Kamu belum pernah baca di grup WA atau socmed, gitu, Di?"

"Belum, Min... Emang isinya apaan?"

"Jadi isinya tuh sebenarnya kurang jelas di daerah mana tuh ya, ada kejadian serem. Ceritanya tuh ada ibu yang gendong bayi tiba-tiba didatengin sama seorang nenek. Pas di tengah keramaian pasar, si nenek berteriak menyalahkan si ibu tadi. Bilangnya kira-kira gini: 'Kamu itu ya... Anak masih sakit kok dibawa ke pasar... Kamu keterlaluan banget.' Si ibu itu bengong dibilangin begitu..."

"Terus... Terus....", Diandra antusias menyimak.

"Terus muncul cowok berbadan besar di hadapan ibu muda itu. Ikut ngomelin si ibu, kamu itu gini gitu.. Lalu si nenek mengambil anak dari gendongan ibunya sambil terus menyalahkan ibu itu. Cowok besar tadi menampar si ibu berulang kali tanpa ampun. Kejadiannya di pasar lho, itu... Orang-orang yang ada di situ nggak ada yang bantuin. Mungkin mereka bingung harus ngapain..."

"Kok serem, sih... Terus gimana lanjutannya, Min?"

"Sewaktu si ibu ditampari cowok besar, nenek yang merebut bayi berlalu sambil terus mengomel. Si ibu muda jatuh ke lantai. Wajahnya kayak orang bingung gitu, Di.."

"Ya Allah... Itu yang salah memang ibunya, ya? Tapi kan kasihan... Masak sampe ditampar di tempat umum, gitu...."

"Nah, kan... Mungkin orang-orang di pasar mikirnya kayak kamu..."

"Eh, mikir gimana maksud kamu?"

"Mikir kalau itu urusan rumah tangga. Mikir kalau yang salah si ibunya.."

"Lho? Emang aslinya gimana, Min?"

"Aslinya... Si Nenek tadi membawa kabur anak bayinya si ibu. Cowok berbadan besar mengalihkan perhatian si Ibu, sama perhatian orang-orang pasar."

"Ya Allah! Jadi, itu penculikan?!!"

"Iya, Di... Itu penculikan! Drama bangetlah pokoknya.. Komplotan penjahatnya bikin settingan, seolah-olah itu adalah persoalan rumah tangga."

"Lemes aku dengernya, Min...", suara Diandra lirih.

"Ibunya itu kasihan banget. Begitu si nenek pergi, si cowok ikutan pergi. Ibu itu teriak minta tolong: 'Anakku diculik... Tolong....', orang-orang di sekitarnya acuh aja. Mereka mungkin masih berpikir bahwa ibu itu yang main drama menutupi kesalahannya membawa anak yang lagi sakit ke pasar. Bayangin, Di. Apa nggak sakit banget... Nggak dipercaya orang kalau anaknya diculik..."

"Aku speechless, Min... Sedih banget bayanginnya... Kasihan ya, Allah..."

"Iya, Di. Orang jahat kok ya makin ngeri begini. Makanya buat ibu-ibu yang punya bayi, mending jangan bawa-bawa bayinya dulu, deh.. Serem soalnya..."

"Buat pengingat kita banget ya, Min.. Apalagi kamu yang bentar lagi mau nikah, InSyaa Allah kan mau punya momongan lebih cepet dari aku."

"Iya, Di... Nah, info itu yang pengen aku omongin ke ibu yang tadi aku lihat lagi gendong anak sambil belanja di sini. Aku nggak tahan pengen ngomong itu.."

"Nah, yaudah, langsung aja kamu bilangin, Min..."

"Tapi, aku malu, Di... Kalau sama orang baru, aku kan gitu... Bingung mau ngomongnya mulai dari mana...", mataku mencari sosok ibu muda menggendong bayi yang tadi sempat aku lihat.

Eh, kemana si ibu tadi? Aku nggak menemukan sosok ibu dan bayi yang tadi.

"Ilang, Di..."

"Hah? Apanya yang ilang?"

"Ibu bayi tadi ilang... Udah gak ada di sini..."

"Waduh.. Kesempatanmu ilang, Min... Semoga ibu bayinya selamat semua, ya..."

"Aamiin ya Allah... Semoga gitu... Aku nyesel nggak ngomong dari tadi. Padahal ada kesempatan. Tapi aku malu banget.."

"Udah, nggak papa, Min... Doain aja mereka aman selamat sampai rumah kembali..."

"Iya, Di.. Aamiin..."

"Eh, dosen aku udah dateng. Aku mau bimbingan lagi. Doain sukses, ya, Min..."

"Iya, Dindra cantik... Semoga cepet beres skripsimu..."

"Aamiin... Eh ya, sebenarnya aku telpon tuh mau ngucapin makasih sama kamu.."

"Makasih untuk ......?"

"Makasih udah kirimin Mukena Larizka buat kadoin aku. Mukena yang Soraya potongan warna pink yang kamu kirim, aku suka... Makasih banyak ya, Mina sayaaang..."

"Hehehe... Iya, Diandra sayang... Makasih kembali. Alhamdulillah kamu suka. Itu buat menyemangati kamu biar makin kenceng ibadah. Cepet lulus. Cepet ketemu sama imam kamu...", ngomong kalimat terakhir barusan bikin aku tersenyum geli. Hehehe...

"Pokoknya makasih banget, Minaaa..... Mukenanya bagus, aku jadi kepo-kepo di situsnya, LARIZKA.com. Oh, ya... Kalo aku mau pulang, InSyaa Allah aku kabarin kamu. Bye, Mina. Assalamu'alaikum...", Diandra menutup telepon.

"Wa'alaikumussalam warohmatullahi wabarakaatuh..."

Diandra memang cewek periang. Apalagi kalau dikasih hadiah, pasti makin seneng. Alhamdulillah, sebingkis kado berisi mukena telah sampai kepadanya, seorang sahabat tersayang.

Ealah... Aku baru inget, ada sederet daftar sayur yang harus aku beli. Aku harus cepetan. Semoga masih pada buka.

Minggu, 04 Maret 2018

Yes!!! Pindah Rumah Lagi!!!

Bismillah...

Untuk kesekian kalinya ngeblog, saya pindah rumah lagi.

Setelah setahun kemarin menikmati hosting mandiri dengan CMS Wordpress, kali ini saya hijrah ke blogger.com. Nempel hosting gratisan. 😆

Karena pertimbangan tertentu, saya memilih untuk stay di sini saat ini.

Artikel-artikel yang pernah terbit di blog www.hakimjasa.net sebelumnya akan saya terbitkan ulang secara bertahap di rumah baru ini.

Di rumah baru ini saya akan posting beberapa tema, tentang internet marketing, bisnis secara umum, maupun pengalaman saya pribadi.


Saya akan membiarkan diri saya menulis karena ini wadah ekspresi saya. Saya benar-benar menahan diri menulis banyak hal karena terlalu banyak pertimbangan beberapa tahun terakhir.

Saya ingin merasakan lagi kebahagiaan ketika menulis, persis seperti si anak perempuan yang tersenyum polos pada foto di atas.

Dulu ketika ngeblog di kimsanada.wordpress.com, saya begitu bebas berekspresi. Menulis beragam hal. Nano-nano. Menjalin banyak kawan blogger, yang kini sudah jarang saya blogwalkingi lagi. Sudah jarang saya sapa. Maafkan saya, Guys.

By the way, blog asli ini sendiri sudah ada sejak 2015. Nggak pernah saya update dua tahun lebih. Hehehe..

Yang penting eksis nulis lagi.

Ibarat olahraga, karena pernah rutin, terus bolong-bolong, pas mulai olahraga lagi bakalan terasa pegal-pegal.

Mulai lagi dari awal.

Tak apa. Lebih baik mulai dari awal sekarang juga daripada menunda-nunda.

Makasih atas support kawan-kawan.

Sukses berkah untuk kamu semua...