Selasa, 06 Maret 2018

Aku Nggak Tahan Pengen Ngomong...

 
Seorang gadis berkerudung pink mendekatiku. Ia tersenyum.

"Maaf, Mbak... Resleting tasnya Mbak terbuka...", katanya sambil mengarahkan jari telunjuk ke tas putih yang aku tenteng di tangan kanan.

"Astaghfirullah...", aku kaget. Segera ku tutup resleting tasku. "Makasih banyak ya, Mbak....", lanjutku.

"Iya, Mbak.. Sama-sama...", ia tersenyum sembari berlalu dari hadapanku.

Aku bersyukur banget. Jaman sekarang masih ada orang baik hati yang mengingatkan orang lain, bahkan orang yang tak ia kenal. Alhamdulillah.

Suasana pagi di pasar saat itu sangatlah ramai. Tak hanya wanita paruh baya yang mengerumuni para penjual di pasar, namun kaum mamah muda pun tak kalah eksis. Ada mamah muda yang berbelanja sambil menggendong bayinya.

Sebentar.. Melihat mamah muda menggendong bayi, aku jadi teringat sebuah info tentang bahaya yang mengancam ibu dan anak di tempat publik yang beredar di socmed. Bahkan masuk ke nomor WhatsAppku.

Hasratku ingin nyamperin si mamah muda tadi, tapi kok malu. Kenal enggak, tapi kok tiba-tiba mau ngajak ngobrol. Bagiku, itu hal aneh.

Tapi, kenapa Mbak berkerudung pink yang tak sempat ku tanya namanya tadi, kok berani ajak ngobrol aku, ya? Batinku berkonflik. Antara mau ajak ngomong dan rasa malu yang makin menjadi.

Ah... Tadi kan aku mau belanja sayuran, tapi kok malah pusing mikirin si mamah muda dan bayinya itu, sih...

Ponselku berdering. Diandra yang menelpon.

"Assalamu'alaikum, Dian...", ku terima telpon dari Diandra.

"Wa'alaikumussalam, Mina..."

"Tumben telepon sepagi ini. Ada apa, Di?"

"Hehehe.. Pengen aja, Min.. Masak nggak boleh, siiih?"

"Boleh, doooong... Kamu apa kabar? Lagi dimana sekarang? Skripsimu udah beresan?"

"Buseeet, satu-satu atuh tanyanya... Hehe..."

Aku nyengir. Ku bayangkan gimana ekspresi wajah Diandra sewaktu ku berondong pertanyaan tadi.

"Alhamdulillah, kabar aku baik, Mina sayang... Sekarang sih masih di Bogor. Masih setia berkutat sama skripsi. Lumayan sih, udah Bab 3. Bentar lagi beresan.", lanjut Diandra.

"Aamiin... Semoga cepet lulus ya, Di.. Udah ditungguin calon suamimu, lho..."

"Siapa, ih. Belum ada tahuuu..."

"Ya, kan calon suamimu di masa depan yang menantimu.. Eaaa..."

"Hahahahaaa....", tawa Diandra pecah di ujung telepon sana. Tuh anak memang humoris banget. Gampang tertawa. Terpancing humor sedikit langsung pecah tawa.

"Min, kok rame banget... Kamu lagi dimana, sih?"

"Iya, rame banget... Ini aku lagi di pasar, Di. Sekali-kali belanja di pasar. Latian jadi ibu, dong..."

"Wuih, cieee.... Yang bentar lagi mau nikahan sama si Abang... Yang rajin ya belanjanya... Yang bener milih barang belanjaannya..."

"Iya, Buk.... Hahaha... Tapi aku lagi galau, nih..."

"Eh, galau kenapa, Min?"

"Tadi ada cewek nyamperin aku. Ngingetin kalau resleting tasku terbuka. Bersyukur banget ada yang ngingetin aku. Kan bisa runyam kalau ada orang jahat yang nyopet isi tasku..."

"Alhamdulillah... Bagus itu... Lha terus, galaunya di bagian mana?"

"Terus... Aku liat ada ibu muda yang gendong anak lagi belanja di sini. Aku inget ada broadcast di WA aku kemarin..."

"Weh... Broadcast apaan, Min?"

"Tentang bahaya yang mengintai ibu muda yang bawa bayi di pasar itu, lho... Kamu belum pernah baca di grup WA atau socmed, gitu, Di?"

"Belum, Min... Emang isinya apaan?"

"Jadi isinya tuh sebenarnya kurang jelas di daerah mana tuh ya, ada kejadian serem. Ceritanya tuh ada ibu yang gendong bayi tiba-tiba didatengin sama seorang nenek. Pas di tengah keramaian pasar, si nenek berteriak menyalahkan si ibu tadi. Bilangnya kira-kira gini: 'Kamu itu ya... Anak masih sakit kok dibawa ke pasar... Kamu keterlaluan banget.' Si ibu itu bengong dibilangin begitu..."

"Terus... Terus....", Diandra antusias menyimak.

"Terus muncul cowok berbadan besar di hadapan ibu muda itu. Ikut ngomelin si ibu, kamu itu gini gitu.. Lalu si nenek mengambil anak dari gendongan ibunya sambil terus menyalahkan ibu itu. Cowok besar tadi menampar si ibu berulang kali tanpa ampun. Kejadiannya di pasar lho, itu... Orang-orang yang ada di situ nggak ada yang bantuin. Mungkin mereka bingung harus ngapain..."

"Kok serem, sih... Terus gimana lanjutannya, Min?"

"Sewaktu si ibu ditampari cowok besar, nenek yang merebut bayi berlalu sambil terus mengomel. Si ibu muda jatuh ke lantai. Wajahnya kayak orang bingung gitu, Di.."

"Ya Allah... Itu yang salah memang ibunya, ya? Tapi kan kasihan... Masak sampe ditampar di tempat umum, gitu...."

"Nah, kan... Mungkin orang-orang di pasar mikirnya kayak kamu..."

"Eh, mikir gimana maksud kamu?"

"Mikir kalau itu urusan rumah tangga. Mikir kalau yang salah si ibunya.."

"Lho? Emang aslinya gimana, Min?"

"Aslinya... Si Nenek tadi membawa kabur anak bayinya si ibu. Cowok berbadan besar mengalihkan perhatian si Ibu, sama perhatian orang-orang pasar."

"Ya Allah! Jadi, itu penculikan?!!"

"Iya, Di... Itu penculikan! Drama bangetlah pokoknya.. Komplotan penjahatnya bikin settingan, seolah-olah itu adalah persoalan rumah tangga."

"Lemes aku dengernya, Min...", suara Diandra lirih.

"Ibunya itu kasihan banget. Begitu si nenek pergi, si cowok ikutan pergi. Ibu itu teriak minta tolong: 'Anakku diculik... Tolong....', orang-orang di sekitarnya acuh aja. Mereka mungkin masih berpikir bahwa ibu itu yang main drama menutupi kesalahannya membawa anak yang lagi sakit ke pasar. Bayangin, Di. Apa nggak sakit banget... Nggak dipercaya orang kalau anaknya diculik..."

"Aku speechless, Min... Sedih banget bayanginnya... Kasihan ya, Allah..."

"Iya, Di. Orang jahat kok ya makin ngeri begini. Makanya buat ibu-ibu yang punya bayi, mending jangan bawa-bawa bayinya dulu, deh.. Serem soalnya..."

"Buat pengingat kita banget ya, Min.. Apalagi kamu yang bentar lagi mau nikah, InSyaa Allah kan mau punya momongan lebih cepet dari aku."

"Iya, Di... Nah, info itu yang pengen aku omongin ke ibu yang tadi aku lihat lagi gendong anak sambil belanja di sini. Aku nggak tahan pengen ngomong itu.."

"Nah, yaudah, langsung aja kamu bilangin, Min..."

"Tapi, aku malu, Di... Kalau sama orang baru, aku kan gitu... Bingung mau ngomongnya mulai dari mana...", mataku mencari sosok ibu muda menggendong bayi yang tadi sempat aku lihat.

Eh, kemana si ibu tadi? Aku nggak menemukan sosok ibu dan bayi yang tadi.

"Ilang, Di..."

"Hah? Apanya yang ilang?"

"Ibu bayi tadi ilang... Udah gak ada di sini..."

"Waduh.. Kesempatanmu ilang, Min... Semoga ibu bayinya selamat semua, ya..."

"Aamiin ya Allah... Semoga gitu... Aku nyesel nggak ngomong dari tadi. Padahal ada kesempatan. Tapi aku malu banget.."

"Udah, nggak papa, Min... Doain aja mereka aman selamat sampai rumah kembali..."

"Iya, Di.. Aamiin..."

"Eh, dosen aku udah dateng. Aku mau bimbingan lagi. Doain sukses, ya, Min..."

"Iya, Dindra cantik... Semoga cepet beres skripsimu..."

"Aamiin... Eh ya, sebenarnya aku telpon tuh mau ngucapin makasih sama kamu.."

"Makasih untuk ......?"

"Makasih udah kirimin Mukena Larizka buat kadoin aku. Mukena yang Soraya potongan warna pink yang kamu kirim, aku suka... Makasih banyak ya, Mina sayaaang..."

"Hehehe... Iya, Diandra sayang... Makasih kembali. Alhamdulillah kamu suka. Itu buat menyemangati kamu biar makin kenceng ibadah. Cepet lulus. Cepet ketemu sama imam kamu...", ngomong kalimat terakhir barusan bikin aku tersenyum geli. Hehehe...

"Pokoknya makasih banget, Minaaa..... Mukenanya bagus, aku jadi kepo-kepo di situsnya, LARIZKA.com. Oh, ya... Kalo aku mau pulang, InSyaa Allah aku kabarin kamu. Bye, Mina. Assalamu'alaikum...", Diandra menutup telepon.

"Wa'alaikumussalam warohmatullahi wabarakaatuh..."

Diandra memang cewek periang. Apalagi kalau dikasih hadiah, pasti makin seneng. Alhamdulillah, sebingkis kado berisi mukena telah sampai kepadanya, seorang sahabat tersayang.

Ealah... Aku baru inget, ada sederet daftar sayur yang harus aku beli. Aku harus cepetan. Semoga masih pada buka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar