Senin, 09 April 2018

Urusanku Dengannya Belum Selesai

Mukena Larizka Official

Jum'at sekitar jam 11.15 aku bergegas memarkir sepeda motor di Stasiun Pekalongan.

Aku sedang berburu tiket menuju ke Bandung. Terburu-buru waktu itu. Salahku tak segera memesan tiket jauh-jauh hari yang lalu, kini aku harus berjibaku dengan keterbatasan tiket dan waktu.

Sasaran utamaku adalah loket pembelian tiket hari itu. Jadwal bidikanku Jum'at malam Sabtu. Malam harinya aku memang harus sudah berada di kereta jurusan Pekalongan - Bandung. Dua hari berikutnya ada agenda yang penting untuk ku ikuti.

Begitu berada di loket yang ku tuju, sayang seribu sayang, sang petugas menolak pembelianku melalui loket. Ia beralasan jadwal keberangkatan masih lama yakni untuk malam harinya, sedangkan antrian di loket masih sekitar 20an orang, lalu tiket kereta yang tersedia jurusan Bandung tinggal 2 kursi saja. Petugas loket KAI merekomendasikanku untuk melakukan pembelian melalui online saja.

WAW!!!

Sengaja aku datang seorang diri ke loket pembelian tiket di Stasiun Pekalongan karena berharap lekas dapat tiket ke Bandung, ternyata realita berjalan lain di luar harapan.

Aku duduk sejenak di kursi area loket tiket. Ku lempar pandanganku ke sekitar. Orang-orang duduk rapi menghadap ke arah jejeran loket yang tadi ku singgahi. Pandanganku berhenti ketika menatap mesin Finnet di pojok ruangan. Mesin tersebut membelakangi sederet orang-orang tadi.

Mesin Finnet di sana untuk membeli tiket secara online. Tinggal ketik-ketik sesuai form yang tersedia, maka tiket kereta cepat kita dapat.

Begitu melihat mesin Finnet tersebut, aku gerak cepat menghampirinya. Aku cek harga tiketnya Rp 360.000, dan di dompetku ada uang Rp 400.000 tunai yang baru saja ku tarik dari mesin ATM di tempat berbeda. Uang tersebut siap ku bayarkan untuk tiketku ke Bandung hari itu.

Alhamdulillah, beres mengisi form pembelian, aku masih mendapatkan tiket ke Bandung. Tinggal pembayarannya saja. Ku pilih pembayaran Cash, lalu ku masukkan uang lembaran seratus ribu satu per satu ke mesin Finnet.

Seratus ribu pertama masuk, seratus ribu kedua masuk, seratus ribu ketiga masuk, seratus ribu keempat masuk sebentar lalu mesin Finnet memuntahkan kembali. Ku coba masukkan lagi uang seratus ribu keempat, eh, dimuntahkan kembali. Ketiga kalinya ku coba, masih sama, mesin Finnet tak mau menerima uang seratus ribu keempatku. Uang keempat tersebut memang berbeda dari ketiga uang sebelumnya, ialah uang seratus ribu yang baru.

Waktu itu sudah mendekati jadwal Sholat Jum'at dan aku masih bersitegang dengan mesin Finnet. Ia menolak uangku yang masih fresh dari mesin ATM.

Ku cari solusi. Ku lempar lagi pandanganku ke sekeliling. Orang-orang yang tadi ku lihat duduk, telah membelakangiku. Seperti ku sampaikan tadi bahwa mesin Finnet memang berada di pojok membelakangi kursi antrian tiket.

Tapi ku lihat ada seorang pria yang duduk sendiri beberapa meter dari tempatku berdiri. Ia berkacamata hitam, duduk menggenggam ponsel yang tersambung kabel charger dengan stop kontak di dekatnya. Tas besar berada di dekat kakinya. Asumsiku, pria tersebut berencana berpergian menggunakan kereta. Tanpa berlama-lama, ku hampiri pria tersebut.

"Mas, maaf..."

Pria tersebut membuka kacamata hitamnya, "iya?", tanyanya.

"Boleh saya tukar uang seratus ribu saya? Uangnya nggak mau masuk di mesin Finnet, Mas...", pintaku menyodorkan uang seratus ribu keempatku tadi.

"Wah, kok bisa, ya?", tanyanya sambil meraba-raba uang tersebut. Ia sedang mengecek keaslian uang yang ku sodorkan.

"Nggak tahu, Mas. Padahal itu baru aja saya ambil dari ATM, Mas...", ku yakinkan pria tersebut bahwa uangku asli.

Pria itu membuka dompetnya, menyodorkanku uang seratus ribu model lama.

"Maturnuwun, Mas...", ku terima uang tersebut. Pria tersebut merespon dengan senyuman.

Ku berbalik badan darinya. Bergegas ku hampiri mesin Finnet kembali. Urusanku dengannya belum selesai.

Uang seratus ribu yang baru ku tukar segera ku masukkan ke mesin Finnet. Alhamdulillah, masuk! Lega hatiku.

Setelah bukti pembayaran tiket keluar dari mesin Finnet, aku segera meninggalkan tempat itu.



Melewati pria baik hati tadi, ku bilang, "Maturnuwun, Mas. Uangnya bisa masuk...". Ia senyum lagi.

Tak ku sangka, Allah menghadirkan solusi berupa kebaikan orang yang tak kukenal dan tak mengenalku.

Biar semakin lega, langsung aku cetak tiket ke Bandung di mesin printer kecil di dekat pintu masuk keberangkatan. Tinggal masukkan kode booking dari bukti pembayaran yang ada di struk mesin Finnet, dan tiket fisiknya aku pegang tak lama kemudian.

Meski sudah lega urusan tiket keberangkatan, tapi tetap saja aku pulang terburu-buru Jum'at siang itu. Jam sudah menunjukkan angka 11.40 WIB.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar