Senin, 25 Juni 2018

Yang Itu, Mas...

Cuaca 25 Juni sore kemarin cukup mendung. Sepeda motor ku parkir tepat di depan sebuah gerobak.

Sebelum berhenti, dari jauh ku lihat ada buah durian menggantung di gerobak tersebut. Itulah alasanku berhenti di sana.

Istriku minta dibelikan Es Durian Ketan. Ia dapat rekomendasi Es Durian Ketan enak di alun-alun Kota Pekalongan dari saudara. Lokasinya di sekitar kantor-kantor travel, di sebelah utara lapangan alun-alun.

"Nah, ini dia tempatnya...", pikirku.

Ku lihat ada seorang bapak sedang duduk di bangku area gerobak. Ku tanyai, "Masih ada, Pak?"

Bapak tersebut bangkit dari duduknya. Menuju ke arahku. "Masih ada apa, Mas?", ia tanya balik.

"Es Ketan Durian, Pak..."

"Masih..."

"Aku beli 2 bungkus ya, Pak..."

Bapak tersebut bersiap di gerobaknya.

"Es Ketan Durian..", aku mengulang pesananku.

"Oh, kalau Es Ketan Durian yang itu, Mas...", kata bapak itu sambil mengacungkan jari ke arah timur. Ternyata bapak tersebut tak terlalu mendengar pesananku di awal percakapan tadi.

Di seberang jalan dari area gerobak tempatku berdiri, ada gerobak durian yang lain.

"Ngapunten (Maaf) kalau gitu, Pak. Nggak jadi beli, Pak..."

"Iya, gak papa, Mas...", sang bapak berbesar hati merelakan calon konsumennya sore itu. Calon konsumen yang salah tujuan.



Aku berlalu dari hadapan bapak tersebut. Sepeda motor tetap berdiri tegak di tempatnya. Sengaja ku tinggal di sana. Aku memilih berjalan kaki menuju ke gerobak kedua.

Di gerobak kedua, terpampang jelas tulisan ES DURIAN KETAN. Ku yakin 100%, kali ini tujuanku tak salah.

Ternyata aku baru sadar, ketika pesan ke bapak di gerobak pertama tadi, aku salah sebut nama. Yang benar bukan Es Ketan Durian, melainkan Es Durian Ketan. Terbalik nama.

Ku datangi pemuda yang dekat dengan gerobak kedua. Ku asumsikan ia adalah penjualnya.

"Mas, masih ada?", tanyaku.

"Masih, Mas..."

"Beli 2 bungkus, Mas..."

"Iya, Mas..."

Ku duduk di bangku plastik. Menanti pesananku.

"Aku tadi salah tempat, Mas. Ku pikir tadi di situ, ternyata di sini.", kataku sambil menunjuk ke gerobak pertama dan gerobak kedua.

Aku melanjutkan kalimatku, "Istriku dapet rekomendasi Es Durian Ketan enak di alun-alun Pekalongan dari saudara."

Mas penjualnya mengangguk sambil nyengir.

"Tinggal kita buktikan, beneran enak, nggak...", lanjutku. Si Masnya makin nyengir.

Tak ada lima menit, pesananku jadi. Si Mas tersebut menyodorkan sebungkus plastik putih berisi 2 bungkus Es Durian Ketan kepadaku.

"Berapa, Mas?"

"Tiga puluh ribu, Mas..."

Ku berikan uang lima puluh ribu kepadanya. Dengan cekatan, ia memberikan uang kembalian. Dua lembar uang sepuluh ribu.

"Maturnuwun, Mas...", katanya padaku.

"Sami-sami...", jawabku lalu beranjak dari hadapannya.

Aku bergegas menuju sepeda motor yang ku parkir di dekat gerobak pertama. Begitu berdiri tepat di sebelah sepeda motor, ada seorang lelaki berkendara sepeda motor menghampiri gerobak di dekatku.

Ku lihat lelaki pengendara motor langsung memesan es durian dari si bapak.

Rezeki tak kemana. Bersaing sehat tak mengapa. Berbesar hati bagian dari mentalitas.

Semoga bapak gerobak durian pertama dan si mas gerobak kedua makin lancar dan berkah rezekinya. Aamiin...

NB:
Isi percakapan yang ku tulis tidak 100% sama dengan kejadiannya, tapi ku upayakan setepat mungkin seingatku.

Pekalongan, 26 Juni 2018

Muhammad Nurul Hakim
www.LARIZKA.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar