Kok Tumben?!

Pexels.com

"Kesal rasanya. Udah ikutnya bayar, tapi nggak paham sama isi acaranya...", aku mengubah posisi dudukku. Bersandar pada kursi. Makan siangku baru saja habis. Unek-unek di kepala harus dituntaskan. Udah memuncak.

"Lho? Kok bisa gitu, Wan? Rugi dong... Gimana ceritanya?", Aji menyeruput es teh. Sepiring nasi kombinasi lauk lele goreng plus sambel dan krupuk sudah dilahapnya.

"Aku udah daftar acara itu udah dari lama kan, ya... Pas hari H memang ada keperluan dadakan. Jadi aku telat sampe di lokasi. Mulainya jam 9, aku datang jam 11." Gantian ku minum es jeruk manis di hadapanku. Setiap memesan es jeruk, harus ku pastikan manis. Aku nggak suka jeruk asem. Lambungku sensitif.

"Waaaah... Itu sih telat pake banget."

"Iya, Ji. Parah banget telatnya. Aku sampe kebagian tempat duduk di bagian belakang. Pojokan."

"Ya panteslah, kamu telat gitu, Wan... Terus apa kaitannya kamu dateng telat sama kamu nggak paham isi acara?"

"Aku kan telat 2 jam, Ji. Ya ketinggalan materi seminar. Otomatis aku bingung, Ji. Nggak dapet awalnya, dapetnya akhirnya.."

"Hahahahaa.... O iya, ya... Namanya telat membawa sengsara..."

"Yeee...", Ini orang malah bikin sewot.

"Itu seminar apaan sih, emangnya? Sampe bikin kamu kesel gitu...", Aji penasaran.

"Tentang cara instan jadi pengusaha sukses, Ji.."

"Weh... Tumben banget kamu ikutan acara gitu, Wan? Bukannya kamu ngebet pengen jadi PNS?"

"Nggak ngebet sih, Ji... Yang pengen aku jadi PNS itu bukan aku, tapi orangtuaku."

"Iya sih, ya... Wajar... Orangtuamu kan PNS."

"Ya tapi akunya nggak pengen, Ji. Kalo nolak ntar kualat sama orangtua. Kalo nurutin orangtua tapi akunya nggak pengen kan berat jalaninnya. Bingung aku..."

"Apa kamu nggak inget, Wan? Orangtuaku kan juga pengen aku jadi PNS. Mereka bukan PNS tapi pengen anak-anaknya jadi PNS."

"Kalo dipikir, yang dipengenin orangtua tuh sederhana aslinya, ya. Anak beres kuliah, bisa kerja, dapet gaji bulanan, bisa buat kebutuhan sama nabung. Gitu doang kan, ya..."

"Sepertinya gitu, Wan... Tapi..."

"Tapi apa, Ji?"

"Dari tadi aku tuh mikir, Wan. Sama seminar instan jadi pengusaha itu."

"Mikir gimana?", aku bingung menangkap arah pembicaraan Aji.

"Aku mikir, apa nggak serem itu acara? Ngajarin orang cara instan gitu? Mie instan aja kabarnya membahayakan tubuh. Lama dicerna di perut."

"Mie instan tuh enak, Ji... Cepet makannya. Kalo laper, bikin bentar, bisa langsung dimakan... Ku pikir, cara yang diajarin juga udah teruji praktis."

"Buatku tetep aneh, Wan... Pembicaranya siapa? Pengusaha apa dia?"

"Hmm... Siapa ya tadi, aku lupa. Nggak terkenal kayaknya, deh... Susah nginget namanya..."

"Nah! Pembicaranya aja kamu nggak kenal. Gimana mau percaya sama apa yang dia ajarin?"

"Iya juga sih..."

"Menurutku ya, Wan, yang namanya instan itu memang menggiurkan tapi nggak bagus buat jangka panjang..."

"Wuidih, ceileee.... Sok bijak banget..."

"Dibilangin, nggak percaya... Bukannya sok bijak, tapi aku dapet kalimat itu di internet. Pas browsing."

"Yeee.... Kirain hasil pemikiranmu...!!!"

"Tapi, kan, ada benarnya...", Aji membela diri.

"Ada benarnya gimana?"

"Dipikir logis aja. Kalau bayi yang baru belajar merangkak, langsung diajari cara instan berlari, ya bahaya, kan..."

"Contohmu ngawur! Masak bayi lagi merangkak kok diajarin lari..."

"Lha iya, kan gitu. Sama halnya kayak kita kalo belum ngerti pengusaha itu ngapain aja, eh, langsung diajarin cara instan jadi pengusaha sukses, ya pasti hasilnya malah nggak karuan. Bukannya untung, bisa jadi malah buntung..."

"Kok malah doain buntung, sih, Ji..."

"Ya nggak doain gitu, tapi analoginya kan, ya gitu... Orang belum siap mentalnya jadi pengusaha, kok udah dikasih tahu cara kilatnya jadi pengusaha sukses. Ya nggak masuk akal, Wan..."

"Tadi di akhir sesi, pembicaranya bilang gini, 'Kalau soal mental, bisa dilatih seiring waktu. Yang penting action dulu...', gimana kalo gitu, Ji?"

"Wah... Kalau asal action, apa nggak malah bahaya itu, Wan? Kalau dibilang mental bisa dilatih seiring waktu sih, mungkin ada benarnya, tapi apakah cocok buat semua peserta seminar tadi? Yang ada, pas kepentok masalah bisnis, bisa stres, bisa depresi, gimana? Apakah cocok sama kamu?"

"Hmm..," Aku masih mencerna kalimat Aji.

"Kalo stres, masalahnya nggak selese. Aduh, serem kalo bayangin ke persoalan psikologis gitu... Bekal mentalitas di awal bikin usaha penting banget menurutku, Wan..."

"Iya, juga, sih... Terus gimana, dong, Ji? Aku kan pengen bisa kayak pengusaha-pengusaha sukses, Ji.. Bisa punya banyak duit, bisa beli apapun yang aku pengenin, bisa bikin rumah impianku, liburan kemanapun aku mau, wah, banyak deh pokoknya..."

"Banyak juga maumu ya, Wan... Hahaha..."

"Iya, dong... Gengsi kan naik, Ji...."

"Hahaha... Gengsi aja digedein..."

Aku nyengir. Aji melanjutkan, "jadi, menurutmu, pengusaha yang berlimpah uang itu sukses, Wan?"

"Iya, Ji. Kalo sukses itu kan duitnya banyak. Ibaratnya duit udah nggak ada nomor serinya lagi. Saking banyaknya..."

"Jadi inget artikel di internet, nih. Kalo kita menganggap pengusaha sukses karena duitnya banyak, lalu gimana dengan guru ngaji di desa? Gimana sama tukang becak? Apa mereka nggak bisa dibilang sukses?"

Wow! Pertanyaan Aji mengerikan. Aku hampir nggak bisa jawab.

"Ya gimana dong, ya...", aku kebingungan.

"Bisa jadi guru ngaji tersebut bahagia ketika bisa mengajarkan cara mengaji yang benar kepada anak-anak. Paginya kerja di sawah, sorenya ngajar ngaji. Nggak dibayar pula..."

Aku diam memperhatikan. Aji melanjutkan kalimatnya.

"...Lalu bisa jadi tukang becak yang semangat bekerja dari subuh, begitu pulang ke rumah disambut peluk istri dan anak-anaknya. Kepulangannya ditunggu-tunggu seisi rumah."

Aku masih diam.

"Belum tentu pengusaha yang kamu bilang sukses dengan indikator materi tadi, dinanti-nantikan kepulangannya oleh keluarga. Belum tentu dia bisa ngobrol santai dengan istri dan anak-anaknya di rumah. Bisa jadi jadwalnya yang sibuk parah, dia jarang di rumah. Tahu-tahu anaknya udah pada gede."

"Kok malah negatif thinking sih, Ji..."

"Ya nggak gitu maksudku... Bisa aja kan situasinya begitu..."

"Khayalanmu terlalu tinggi, Ji...", Aku menertawakannya.

"Ini orang dikasih tahu, malah ngetawain," gantian Aji yang sewot.

Aku terkekeh. Geli melihat respon Aji.

"Kayaknya kamu pas banget kalo baca artikel yang aku bilang tadi, deh, Wan."

"Artikel apaan?"

"Ini, di situs JuraganForum.com. Ada artikel yang bahas tentang 'Makna Sukses' sama 'Menghitung Angka Cukup'."

"Kayaknya bagus, mau linknya dong, Ji."

"Nih, linknya: http://juraganforum.com/maknasukses sama http://juraganforum.com/menghitung-angka-cukup," Aji membaca dari layar ponselnya.

"Kirim ke WA-ku aja, Ji," pintaku.

"Ah, dasar males. Tinggal buka aja situs JuraganForum.com, cari artikelnya di situ. Bakal ketemu, kok.."

"Hehehe... Oke, oke.. Makasih ya, Bapak Aji yang baik hati..."

Aji nyengir aja, "Udah dulu ya, Wan. Aku udah harus balik lagi ke kantor."

"Oke, Ji. Hati-hati..."

Aji bangkit dari tempat duduknya, "Nggak usah bayar, Ji. Aku yang traktir," kataku.

"Hahaha... Siap, Pak Bos! Makasih banyak!", ledeknya. Aku nyengir sambil melihat Aji yang bergegas keluar dari rumah makan.

Kulihat jam di ponselku. Udah jam 1 siang. Biasanya memang jam istirahat kantor udah habis.

Aji emang sahabat idola. Dia banyak banget bantuin aku. Dari jaman sekolah di SMP sampai dia berkutat dengan urusan HRD di sebuah pabrik tekstil saat ini. Jarak kantornya sekitar 10 menit dari tempat makan kami kali ini.

Kalo Aji udah asik dengan bidang HRDnya, aku masih berkutat dengan iklan lowongan kerja. Tes CPNS tahun lalu gagal, memang jadi beban pikiran banget. Bapak ibuku pengen aku jadi teladan yang bener buat adik-adikku. Makin pusing kepalaku. Belum lagi aku punya segudang impian. Antara impian sama realita kok timpang banget gini, ya. Rasanya masih mustahil merealisasikan impianku.

Ketemu makan siang sama sohib memang bikin pikiran sedikit enteng. Curhat-curhat dikit memang melegakan. Hahaha...

Jari-jemariku masih lincah menari di atas layar ponsel. Koneksi 4G membuat laman JuraganForum.com cepet ku akses. Nggak cuma dua artikel tadi, ternyata ada artikel tentang 'Keberkahan di Proses' sama artikel 'Memahami Konsep Rejeki' menggelitik rasa penasaranku.
Kok Tumben?! Kok Tumben?! Reviewed by kim on 11.27 Rating: 5

Tidak ada komentar